29 March 2006

Faktor yg merendahkan martabat wanita

FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA


---------------------------------------

Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari faktor dalam. Bukanlah faktor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.

Faktor-faktor tersebut ialah:

1) Lupa mengingat Allah

Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syetan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: artinya:

" Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya."

Sabda Rasulullah s.a.w.: artinya:
"Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan." (Riwayat Tarmizi)

Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.

2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia

Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syetan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelimang dengan dosa dan noda.
Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An'am: artinya:

" Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh karena itu tidakkah kamu berfikir."

3) Mudah terpedaya dengan syahwat
4) Lemah iman
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk.

Ad-dunya mata' , khoirul mata' al mar'atus sholich
Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.



source : NN

27 March 2006

Kilas Balik SMK TI Indonesia -Part II

By Mr. Bonas

Tidak mudah memang bagi sekolah untuk mengikuti perkembangan dunia IT. Keterbatasan infrastruktur sampai kepada sumber daya manusia menjadi titik pemicu utama ketertinggalan tersebut. SDM yang bersifat karbitan yang telah di ciptakan ternyata sebagian besar semata mata hanya untuk waktu yang singkat. Lupa bahwa yang paling utama adalah semangat untuk belajar sendiri (self study spirit). Ilmu praktis yang di dapatkan hanyalah sebuah penopang sementara untuk selanjutnya di kembangkan lebih jauh. Tidak lah mengherankan lagi kalau siswa yang di hasilkan hanya menguasai ilmu penopang tanpa ada landasan.


Guru kencing berbediri, murid kencing berlari, sebuah pepatah lama yang banyak di ungkapkan dalam beberapa buku. Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah apakah benar guru tersebut sudah mempunyai ketrampilan atau skill seperti yang di harapkan oleh industri sehingga murid/siswa mereka bisa lebih dari gurunya ??. SMK yang bertujuan menciptakan tenaga kerja level menengah harusnya berorientasi pada ketrampilan serta kemampuan kerja secara aplikatif dan implementatif ternyata kembali menjadi bulan bulanan arogansi industri yang tidak bisa konsisten. Tidak bisa di persalahkan memang, sebab industri yang berorientasi pada margin profit di Indonesia masih sangat mampu untuk memilih pekerja pekerja yang di nilai memberikan keuntungan tersendiri untuk mereka. Secara jelas dapat di katakan sistem link and match yang selama ini di agung agungkan oleh sektor pendidikan ternyata di dunia industri IT sendiri masih sangat jauh. Jangankan berpikir untuk pengembangan SDM la wong yang tersedia saja tidak bisa di tampung, demikian tanggapan beberapa HRD Perusahaan IT besar di Indonesia.

Lalu bagaimana dan apa langkah selanjutnya yang di butuhkan untuk melakukan mensiasati hal tersebut ?. Salah satu dari sekian banyak ujicoba untuk pencarian sistem baku ini di tempuh, mulai dari adanya standard nasional dengan sistem SKKNI sampai kepada ikut andilnya masyarakat melalui Komite Sekolah. Akan tetapi hal mungkin menjadi terabaikan adalah berapa banyak lagi siswa/murid yang menjadi korban untuk ujicoba tersebut. Bayangkan dengan jumlah SMK TI yang semakin banyak di sertai dengan jumlah siswa yang mungkin bisa lebih dari 40 Kali lipat jumlahnya dari sekolah itu sendiri. Kemana mereka akan masuk ?, apakah mereka harus beralih fungsi ke bidang lain atau menambah populasi pengangguran di negara ini.

Tahun 2004 dimana perubahan kurikulum terjadi lagi dan bahkan dengan tanpa perhitungan cermat serta proses evaluasi yang detail kembali lagi berbondong bondong para praktisi, industri dan juga dunia pendidikan berusaha untuk memperbaiki hal tersebut.

Adanya LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) yang menawarkan sebuah solusi tanpa pasti menambah indahnya fenomena sdm IT kita. Sebuah pertanyaan indah yang di lontarkan oleh Dr. Gatot HP dalam sebuah kesempatan adalah ” Berapa Besar Jaminan Kerja dan Gaji jika siswa sudah berhasil mendapatkan sertifikasi tersebut ??.

Pertanyaan yang cukup menyentakan beberapa pihak. Jawaban yang tidak pasti pun akhirnya menjadi alasan untuk pertanyaan tajam tadi. Berapa banyak lagi korban siswa ujicoba harus ikut dalam arena ini ?? Jawabnya mungkin kita sebagai pelaku IT Indonesia ikut bertanggung jawab.

26 March 2006

Cara Nabi Mendidik Anak

From: DENDY W
Date: Tues, Mar 21 2006 5:56 pm
Rabu, 22 Maret 2006 / Thn V
Sumber : Kitab Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli
{ Cara Nabi mendidik anak, Ir. Muhammad Ibnu Abdul hafidh Suwaid }

Kami coba akan meringkas dari buku Kitab Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli

Tanggung Jawab pendidikan

Pendidikan anak merupakan beban yang harus dipikul oleh orang tua, dari Ibnu Umar,

Rasulullah saw, bersabda ;
" Masing-masing kalian adalah pemimpin. Masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban terhadap kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawabannya terhadap kepemimpinannya, seorang lelaki adalah pemimpin dikeluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap kepemimpinannya, begitu juga pelayan adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap kepemimpinannya. Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap kepemimpinannya " ( Muttafaq'Alaih )

Bahkan Beliau juga meletakkan kaidah dasar yang intinya adalah bahwa seorang anak itu akan tumbuh dewasa sesuai dengan agama orang tuanya.
Sekali lagi bahwa tanggung jawab pendidikan anak ada di pundak orang tua.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ( At Tahrim ; 6 )

" peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, menurut ;

1. Sayidina Ali ; Ajarkanlah kebaikan kepada dirimu dan keluargamu
2. Imam Fakhrur Rozi ; Perintah terhadap dirimu dan keluargamu untuk meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah
3. Muqatil ; Seorang muslim hendaklah mendidik diri dan keluarganya,memerintah mereka agar melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

MEMAHAMI SIKAP SABAR

From: Arland hmd098
Date: Sat, Mar 11 2006 2:00 pm

MEMAHAMI SIKAP SHABAR

Menurut Imam al-Ghazali, sabar itu terbagi ke dalam dua sudut pandang, yaitu :
pertama: sabar ditinjau dari aspek subyek atau pelakunya,
kedua: sabar ditinjau dari aspek tingkat kekuatan dan kelemahannya.

Kedua segi umum ini kemudian terbagi lagi ke dalam beberapa sub bagian.

1. Sabar Ditinjau dari Aspek Subyeknya
Ditinjau dari aspek subyek atau pelakunya, sabar terbagi ke dalam dua hal, yakni sabar yang bersifat fisik (badany) dan sabar yang bersifat psikis (nafsy).

Sabar yang bersifat fisik (badany) ini dapat berujud kesabaran dalam perbuatan (fi'ly), seperti sabar dalam melanggengkan ibadah shalat malam yang panjang dan melelahkan, dan dapat pula berupa ketabahan dalam menanggung penderitaan (ihtimaly).
Contohnya seperti kesabaran untuk tidak membalas pukulan keras yang dilontarkan seseorang lewat perkataannya atau sabar dalam cobaan sakit yang sangat parah.

Sedangkan sabar yang bersifat psikis (nafsy) adalah kesabaran jiwa dan hati untuk tidak menuruti keinginan hawa nafsu.

2. Sabar Ditinjau dari Aspek Tingkat Kekuatan dan Kelemahannya

Sabar ditinjau dari aspek ini terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu :
a. Kemampuan mengendalikan dan mengalahkan hawa nafsu secara total dan paripurna, sehingga tidak tersisa sedikitpun perlawanan dari hawa nafsu tersebut.
b. Ketidakberdayaan sama sekali di hadapan bujuk rayu hawa nafsu, sehingga yang bersangkutan hanyut dan terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa.
c. Inkonsistensi dalam pengendalian hawa nafsu, sehingga terkadang yang bersangkutan mampu mengalahkannya, namun terkadang pula ia dikalahkan oleh hawa nafsu tersebut.

Sabar dalam aspek ini (ad c) juga terbagi kepada :
a. Tashabur, artinya yang bersangkutan harus mengerahkan segenap kemampuannya dengan susah payah untuk mengalahkan nafsunya.
b. Shabr, artinya yang bersangkutan tidak perlu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk dapat mengalahkan nafsunya. Dalam hal ini, yang mampu melakukannya adalah orang yang mempunyai kualitas keimanan dan ketakwaan yang memadai. Dengan kualitas iman dan takwanya yang prima, seberat apapun godaan dan cobaan dari hawa nafsu, baginya tetap merupakan lawan yang mudah ditaklukkan dan dijinakkan.

Sebagai contoh ilustrasi, misalkan seorang pegulat yang besar dan kuat akan dengan mudah mengalahkan lawannya yang kecil dan lemah (shabr), namun seorang pegulat yang kecil dan lemah harus susah payah mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatannya untuk mengalahkan lawannya (tashabur).

Adapula sebagian ulama ahli ma'rifat yang membagi tingkatan orang yang senantiasa sabar (ahl shabr) ke dalam tiga tingkatan, yaitu :
a.Meninggalkan syahwat (keinginan nafsu), tingkatan ini adalah tingkatan orang yang taubat (ta'ibin).
b.Ridla dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya, tingkatan ini adalah tingkatan orang yang zuhud (zahidin).
c.Mahabah (mencintai) apa saja yang Allah SWT lakukan dan perintahkan, dan ini adalah tingkatan orang-orang yang benar atau lurus (shidiqin).

Kawan..... Semoga kita mampu menempati -paling tidak- salah satu tangga dari banyak tangga yang ada dalam maqam kesabaran ini, Insya Alloh.....

Amien Allohumma Ya Robbal 'Alamien.........

wallohu a'lam bish-shawab,-

Orang-orang yang Didoakan oleh Malaikat

From: masjid_annahl
Date: Wed, Mar 15 2006 12:59 pm
Samsung Enterprise Portal mySingle
From: DADANG SUHADA


Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat
Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi


Allah SWT berfirman, “Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)


Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci’” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2.Orang yang duduk menunggu shalat.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang–orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.
Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang – orang yang berinfak.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’ (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur.
Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit.
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)


Disarikan dari Buku Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005.
Semoga Bermanfaat

Bersiaplah Menjadi Ibu

From: DENDY WAHYONO
Date: Wed, Mar 15 2006 9:52 am
Rabu, 15 Maret 2006 / Thn-V
Sumber : aldakwah-Rita Prasetiani

BERSIAPLAH MENJADI IBU


" Ibu adalah sebuah sekolah, yang apabila engkau persiapkan (dengan baik), berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Ungkapan seorang penyair di atas menggambarkan betapa besarnya peran seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi yang kelak akan menentukan kualitas suatu bangsa. Ibu adalah sekolah -bahkan sekolahan pertama- bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah pendidikan yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar -terutama dalam aspek keimanan kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Gambaran pentingnya tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh Dr. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam Konferensi Dunia tentang Wanita di Beijing yang ia tuturkan berikut ini:

"Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan keterampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa awal-awal pertumbuhannya. Walaupun tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time, tak berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut bertanggung jawab. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut."

Bagi seorang muslimah, betapapun beratnya tugas seorang ibu tetapi keimanan dan harapannya akan iming-iming surga memotivasinya untuk rela dan bersungguh-sungguh menjadi seorang ibu. Apalagi Islam memberikan kedudukan dan penghormatan yang tinggi terhadap seorang ibu. Seorang ibu muslimah dapat menjadi salah satu penentu seseorang untuk meraih surga seperti sabda Rasulullah saw., berikut ini"

"Surga itu di bawah telapak kaki ibu." (HR.

Untuk membentuk generasi muslim yang tangguh dan bertaqwa, tidaklah cukup hanya dengan menghadirkan anak-anak yang cerdas saja, melainkan anak-anak yang optimal dari berbagai segi seperti biofisik, psikososial, kultural, dan ruhiyah serta melingkupi skala dunia dan akhirat. Maka untuk mencetak generasi dengan kriteria di atas, dibutuhkan para ibu yang handal, oleh karena itu para muslimah yang kelak akan menjadi calon ibu harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi ibu harapan umat. Persiapan ini tidak hanya harus dilakukan setelah menikah, tetapi dapat dimulai saat seorang wanita masih lajang agar ketika ia memasuki perannya sebagai ibu, ia sudah siap melaksanakan tugas keibuannya.

Persiapan Ruhiah

Menyadari besarnya tugas seorang ibu, maka seorang wanita harus banyak-banyak melakukan pendekatan kepada Allah SWT untuk memohon kekuatan ruhiah dan petunjuk dalam mendidik titipan Allah swt tersebut.

Oleh karena itu seorang muslimah harus senantiasa mendirikan ibadah-ibadah selain ibadah wajib. Seorang wanita sholihah ialah muslimah yang mengimani bahwa Allah SWT adalah Robbnya, Muhammad saw adalah Nabinya dan Islam adalah diennya. Ia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat terhadap perintah keduanya dan menjadikan ketaatannya itu sebagai filter yang membentengi dirinya dari kemaksiatan.

Seorang ibu yang sholihah amatlah penting karena ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak pada masa-masa balita. Inilah kesempatan untuk menanamkan aqidah keislaman dalam diri anak-anaknya dan mereka didik sang permata hati untuk cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta menjauhkan diri dari kemaksiatan dan akhlaq yang rusak. Selain itu ibu yang sholihah diharapkan mampu menciptakan sebuah rumah tangga sakinah yang sangat diperlukan untuk perkembangan jiwa anak.

Dalam persiapan ruhiyah ini banyak hal yang dapat dilakukan sebagai santapan rohani yang bermanfaat seperti:
- Dzikrullah dan Tilawatil Qur'an
Dengan dzikrullah, seseorang akan bertambah cinta dan taqwa kepada Allah dan Allah pun ingat kepadanya sesuai firman Allah SWT:
"Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya aku akan ingat kepadamu". (QS. Al-Baqarah: 152)
- Menghafalkan Al-Qur'an
- Memperbanyak Istighfar
- Memperbanyak Doa
- Memperbanyak Shalawat kepada Rasulullah saw.
- Qiyamullail
- Memperbanyak ibadah-ibadah sunnah
- Membiasakan hal-hal yang baik.

Jika seorang ingin anaknya rajin bersedekah, maka biasakanlah untuk sering bersedekah karena anak biasanya membutuhkan contoh dari orang tuanya. Jika kita ingin anak kita tidak berdusta, maka janganlah kita contohkan berkata dusta. Jika kita ingin anak kita menghormati kita sebagai orang tuanya, maka hormatilah kedua orang tua kita. Jika kita ingin anak kita tidak berkata dan berbuat kasar, maka berhati-hatilah dalam berbicara karena anak akan merekam dan meniru apa yang diucapkan orang tua atau lingkungannya.

Persiapan Aqliah


"Buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh nanti akan ke dapur-dapur juga.." Ungkapan seperti ini sering kita dengar sebagai pernyataan tidak pentingnya kaum wanita menuntut ilmu. Pada sebagai sebuah sekolah bagi anak-anaknya, ibu yang berpendidikan lebih dibutuhkan.

Seorang ibu yang pintar dapat berfikir kreatif bagaimana cara mengembangkan potensi anak-anaknya. Setidaknya seorang ibu yang mencintai pendidikan akan selalu mementingkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Untuk menjadi seorang ibu yang pintar tidak harus selalu mendapatkan pengetahuan dari bangku sekolah atau kuliah. Cara yang paling efektif dalam mengembangkan wawasan seorang wanita ialah dengan banyak membaca. Kini sudah banyak tersedia buku-buku tentang metode pendidikan anak secara islami yang menerangkan apa saja hak-hak anak, mendidik anak sesuai tahap perkembangannya, dan tentang kesalahan cara pendidikan anak dan solusinya. Bahkan kini sudah banyak beredar buku yang membicarakan cara-cara mendidik anak sejak dalam kandungan.

Kita tidak perlu menjadi seorang dokter untuk dapat mengobati atau memberikan pertolongan pertama pada anak kita yang sakit. Kini sudah banyak buku-buku yang menerangkan tentang makanan apa saja yang bermanfaat bagi perkembangan tubuh dan otak anak, obat-obatan tradisional, cara menangani pertolongan pertama pada anak, dan lain-lain. Selain membaca, banyak sarana lain yang dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan seperti mengikuti berbagai seminar, ceramah, atau diskusi yang membahas tentang pendidikan anak.

Persiapan Jasmaniah

Kekuatan fisik merupakan hal yang patut diperhatikan oleh seorang calon ibu. Seorang wanita membutuhkan ketahanan fisik untuk menghadapi masa-masa kehamilan dan menyusui. Bagaimana calon ibu dapat mempertahankan kesehatan janin bila ia sudah direpotkan dengan berbagai penyakit karena akibat tidak bisa menjaga kesehatan.

Masa kehamilan adalah masa-masa yang membutuhkan kesehatan fisik wanita secara prima. Allah SWT menggambarkan kelemahan seorang ibu ketika masa kehamilan dalam ayat berikut ini:

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman: 14)

Untuk itu seorang muslimah diharuskan menjaga kesehatannya sedini mungkin. Berikut ini ada beberapa kiat sehat ala Rasulullah saw:

1. Selalu bangun sebelum Shubuh
Selain untuk mendapatkan kesegaran udara, bangun sebelum shubuh juga memberikan hikmah berupa berlimpahnya pahala dari Allah dan untuk memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan.

2. Aktif Menjaga Kebersihan

3. Tidak Makan Banyak

4. Gemar Berjalan Kaki

5. Tidak Pemarah

6. Optimis dan Tidak Putus Asa

7. Tak Pernah Iri Hati

Demikianlah persiapan-persiapan dasar yang harus dilakukan seorang wanita sebagai calon ibu pencetak generasi qur'ani yang akan membangun suatu bangsa. Mudah-mudahan kita semakin siap memikul tugas keibuan yang berat tapi mulia ini sehingga kita menjadi ibu yang didambakan oleh umat. Amin

Sumber Bacaan:
Bukan Sembarang Ibu, Muhammad Hassan, Bina Mitra Press 1997
Peran Ibu dalam Mendidik Generasi Muslim, Khairiyah Husain Taha Shabir, MA., CV. Firdaus, 2001
Pembersih Jiwa, Imam al-Ghazali, Imam Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Penerjemah: Nabhani Idris. Pustaka, 1996

24 March 2006

Mandikan Aku Bunda = Suatu Pelajaran yg Sangat Berharga, dimana kasih sayang tak pernah bisa ditukar dengan harta dunia.

Mandikan Aku Bunda

Suatu Pelajaran yg Sangat Berharga, dimana kasih sayang tak pernah bisa ditukar dengan harta dunia.


Assalamu'alaikum wr. wb.

Ba'da tahmid wa sholawat;

Sebuah pelajaran yang Sangat berharga, dimana kasih sayang tak akan pernah bisa ditukar dengan harta dunia; dimana kasih ibu sebagai takdir adalah untuk dilaksanakan, bukan untuk diingkari; dan dimana pun engkau berada, kelalaian bisa menjadi fatal error!!! waktu tak bisa kembali....dan nyawa hanya satu.... akan KAU bawa kemana??

Wassalammu'alaikum wr. wb.


Sister, Nur W. R.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. sungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. ( Terjemah Al Qur'an )

MANDIKAN AKU, BUNDA

Saya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya. Sebut saja Rani namanya. Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya.
Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan.
Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara" dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya.
Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi.
Saya pernah bertanya , " Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?" Dengan sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok." n itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian.
Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya. "Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini "DAPAT MEMAHAMI" orang tuanya. Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya. "ALIF INGIN BUNDA MANDIKAN." Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya.
Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan, "BUNDA, MANDIKAN ALIF" begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. "Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency". Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah SWT sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya.
Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.
Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. " INI BUNDA LIF, BUNDA MANDIKAN ALIF " Ucapnya lirih, namun teramat pedih. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, " INI SUDAH TAKDIR, IYA KAN ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ?". Saya diam saja mendengarkan.
" INI KONSEKUENSI SEBUAH PILIHAN." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani tertunduk. "Aku ibunya ............................!" serunya kemudian, "BANGUNLAH LIF, BUNDA MAU MANDIKAN ALIF. BERI KESEMPATAN BUNDA SEKALI SAJA LIF". Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-ngais tanah merah. Air mata kesedihan menyirami pusara Alif, putra satu-satunya. ( Nasi telah jadi bubur, yang berlalu tak pernah kembali lagi, penyesalan selalu datang terlambat )

kiriman dari my sister :) Thanks very much