27 March 2006

Kilas Balik SMK TI Indonesia -Part II

By Mr. Bonas

Tidak mudah memang bagi sekolah untuk mengikuti perkembangan dunia IT. Keterbatasan infrastruktur sampai kepada sumber daya manusia menjadi titik pemicu utama ketertinggalan tersebut. SDM yang bersifat karbitan yang telah di ciptakan ternyata sebagian besar semata mata hanya untuk waktu yang singkat. Lupa bahwa yang paling utama adalah semangat untuk belajar sendiri (self study spirit). Ilmu praktis yang di dapatkan hanyalah sebuah penopang sementara untuk selanjutnya di kembangkan lebih jauh. Tidak lah mengherankan lagi kalau siswa yang di hasilkan hanya menguasai ilmu penopang tanpa ada landasan.


Guru kencing berbediri, murid kencing berlari, sebuah pepatah lama yang banyak di ungkapkan dalam beberapa buku. Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah apakah benar guru tersebut sudah mempunyai ketrampilan atau skill seperti yang di harapkan oleh industri sehingga murid/siswa mereka bisa lebih dari gurunya ??. SMK yang bertujuan menciptakan tenaga kerja level menengah harusnya berorientasi pada ketrampilan serta kemampuan kerja secara aplikatif dan implementatif ternyata kembali menjadi bulan bulanan arogansi industri yang tidak bisa konsisten. Tidak bisa di persalahkan memang, sebab industri yang berorientasi pada margin profit di Indonesia masih sangat mampu untuk memilih pekerja pekerja yang di nilai memberikan keuntungan tersendiri untuk mereka. Secara jelas dapat di katakan sistem link and match yang selama ini di agung agungkan oleh sektor pendidikan ternyata di dunia industri IT sendiri masih sangat jauh. Jangankan berpikir untuk pengembangan SDM la wong yang tersedia saja tidak bisa di tampung, demikian tanggapan beberapa HRD Perusahaan IT besar di Indonesia.

Lalu bagaimana dan apa langkah selanjutnya yang di butuhkan untuk melakukan mensiasati hal tersebut ?. Salah satu dari sekian banyak ujicoba untuk pencarian sistem baku ini di tempuh, mulai dari adanya standard nasional dengan sistem SKKNI sampai kepada ikut andilnya masyarakat melalui Komite Sekolah. Akan tetapi hal mungkin menjadi terabaikan adalah berapa banyak lagi siswa/murid yang menjadi korban untuk ujicoba tersebut. Bayangkan dengan jumlah SMK TI yang semakin banyak di sertai dengan jumlah siswa yang mungkin bisa lebih dari 40 Kali lipat jumlahnya dari sekolah itu sendiri. Kemana mereka akan masuk ?, apakah mereka harus beralih fungsi ke bidang lain atau menambah populasi pengangguran di negara ini.

Tahun 2004 dimana perubahan kurikulum terjadi lagi dan bahkan dengan tanpa perhitungan cermat serta proses evaluasi yang detail kembali lagi berbondong bondong para praktisi, industri dan juga dunia pendidikan berusaha untuk memperbaiki hal tersebut.

Adanya LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) yang menawarkan sebuah solusi tanpa pasti menambah indahnya fenomena sdm IT kita. Sebuah pertanyaan indah yang di lontarkan oleh Dr. Gatot HP dalam sebuah kesempatan adalah ” Berapa Besar Jaminan Kerja dan Gaji jika siswa sudah berhasil mendapatkan sertifikasi tersebut ??.

Pertanyaan yang cukup menyentakan beberapa pihak. Jawaban yang tidak pasti pun akhirnya menjadi alasan untuk pertanyaan tajam tadi. Berapa banyak lagi korban siswa ujicoba harus ikut dalam arena ini ?? Jawabnya mungkin kita sebagai pelaku IT Indonesia ikut bertanggung jawab.

No comments: